Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah tetapkan 1 Ramadhan 1445H pada 11 Maret BREAKING NEWS: Ribuan Personel Gabungan Disiapkan Amankan Debat Pilpres Cerita Warga Manado Senang Bisa Berswafoto dengan Presiden  Polda Sulsel Gagalkan Peredaran 21 Kg Ganja, 98 Kg Sabu, 20 Ribu Butir Ekstasi Pj Gubernur Papua Terkena Lemparan Batu

Opini · 21 Sep 2023 00:29 WITA

OPINI : TANGGA RENY


 OPINI : TANGGA RENY Perbesar

METROMILENIAL — NANTI sore 8 September 2023 ada pembukaan Festival Tangga Banggo (FTB). Di Siranindi, Palu Barat, Sulawesi Tengah. Gelaran seni dan budaya tahunan. Tahun ini yang ke-4. Yang menyelenggarakan forum masyarakat setempat. Begitu pesan whatspp yang masuk ke handphone saya.

Secara harfiah, Tangga Banggo berarti Tangga Miring. Namun pengertiannya meluas pada arus, hilir mudik, naik turun di tangga, dan merujuk pada pertemuan para pemuka adat, raja dan tokoh masyarakat di kampung tersebut. Ada juga yang mengartikan tangga yang fleksibel, lentur.

Saya bergegas. Eh, malah terlalu cepat tiba. Saya putuskan berteduh, menghindari teriknya matahari yang menyengat. Di beranda sebuah mushalla. Tak jauh dari situ. Di sampingnya jejeran penjaja kuliner sudah terlihat ramai. Begitu juga stand tenda aneka produk khas Palu berbaris rapi hingga dekat panggung utama.

Beberapa waktu lalu Mohamad Fahri Lembah, salah seorang penggagas festival itu mengajak saya. Usianya memang lebih muda dari saya. Adik kelas waktu sekolah di SD Inpres Kamonji beberapa dekade silam.

Entah mengapa, kali ini saya tak kuasa lagi menolak undangannya. Setelah tiga kali gagal. Hitung-hitung membayar utang. Riri, begitu ia akrab disapa, tersenyum lebar menyambut kedatanganku. Jauh-jauh dari Surabaya via Makassar. “So lunas utang saya lee,” selorohku dengan dialek Palu. Tawa kami pecah.

Bagi Fahri dkk, Tanggo Banggo menjadi penting dilakukan berulang, karena menjadi simbol keberagaman warga yang mendiaminya. Baik etnis, agama, suku, dan juga kebudayaannya. Kemajemukan itu dibangun agar menjadi spirit kebersamaan untuk membangun. “Seperti pelangi sehabis hujan. Indah karena warna warninya,” ujar Munajad Rifai, ketua panitia FTB ke-4.

————–

Maksud hati ingin menikmati hiburan festival. Lagi-lagi eh, malah tak sengaja bertemu sosok perempuan. Berpapasan. Di tangga banggo. Orang-orang menyapanya: dokter Reny!

Saya melihat ia sibuk bersalaman satu per satu, dengan banyak orang. Saya tak kebagian kesempatan bersalaman dengannya. Pun deretan penjaja kuliner yang dilewatinya tak putus senyum mengembang dari bibirnya.

Saya baru tahu. Rupanya wanita bernama lengkap dr.Reny Arniwaty Lamadjido, Sp.PK, M.Kes ini orang yang ditunggu-tunggu sore itu. Ia membuka secara resmi festival itu.

Wanita kelahiran Makassar 17 Desember 1962 dan besar di Palu ini adalah Wakil Walikota Palu mendampingi Hadianto Rasyid. Ia adalah putri dari mantan Gubernur Sulawesi Tengah, Abdul Azis Lamadjido.

Di opening ceremony itu dokter Reny mewakili Walikota yang berhalangan hadir. Pakai baju hitam dengan jilbab putih. Saya duduk agak di belakang. Berbaur dengan warga. Agar bisa cepat meninggalkan tempat. Harus menghadiri kegiatan lain yang tak kalah penting bagi saya. Semacam reuni kecil-kecilan dengan teman-teman masa kecil SD Inpres Kamonji yang sekitar 40 tahun lebih baru bertemu lagi.

Saya melihat atensi dan daya juang dibalik pidato dokter Reny. Ini pandangan subyektif saya. Terutama semangatnya menghidupkan nilai-nilai tradisi dan budaya lokal yang mulai redup. Bahkan ia menantang panitia festival mengajukan proposal untuk membuat tugu Tangga Banggo. Alasannya biar nanti akan menjadi ikon baru untuk mengingat dan membangkitkan kembali cerita dibalik perayaan festival rakyat itu.

Di situ saya menangkap dokter Reny seperti melempar sindiran. Entah kepada siapa. Bahwa pemimpin itu harus visioner. Tapi juga harus punya road map untuk mencapai visinya itu. Kalau tidak, ia bukan seorang pemimpin. Ia hanya seorang pemimpi.

Tak banyak saya tahu tentang dokter Reny. Tapi dari berbagai informasi, rekam jejak digital, dan cerita yang saya dapatkan, ia adalah berlian di sepanjang hidupnya: kuliah S-1 di Unhas Makassar, fakultas kedokteran pula. Jadi aktivis HMI dan Senat Mahasiswa. Tamat sarjana kedokteran, ia melanjutkan studi spesialis dan magister kesehatan di kampus yang sama.

Dalam dunia praktek, ia dikenal seorang dokter yang sangat menonjol. Menitit karir dari bawah. Mulai dokter di Puskemas Dolo (1991-1992), lalu jadi Kepala Puskesmas Duyu (1992-1997).

Awal tahun 2002 karir dokter Reny mulai menanjak. Saat dipercaya sebagai Kepala Bidang Pelayanan Medik RSU Anutapura, lalu jadi Direktur di rumah sakit itu. Tak berselang lama, ia ditunjuk jadi Direktur RSUD Undata Palu (2015-2018) dan pada 2018 dipromosikan sebagai Kepala Dinas Kesehatan provinsi Sulawesi Tengah hingga 2020.

Waktu masuk ke arena politik, banyak yang menyayangkan keputusannya. Ia dokter. Seorang yang profesional. Tapi, mau menjadi wakil walikota Palu. Saya tidak dalam kapasitas menilai itu benar atau salah. Yang saya tahu, menjadi kepala daerah adalah menjadi pemimpin publik sekaligus pemimpin politik.

Suatu saat bila bertemu dokter Reny lagi, saya ingin bilang: kita punya persamaan. Sama-sama alumni dari Unhas Makassar. Sama-sama aktivis. Ia aktivis di HMI dan senat mahasiswa, sedangkan saya aktivis di koran kampus “Identitas”. ***

(Rusman Madjulekka).

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Tim Kreatif

Baca Lainnya

Opini: MENDADAK MENULIS

23 Oktober 2023 - 10:37 WITA

INSPIRASI : DAMPO KIKI

21 September 2023 - 19:42 WITA

Sektor Pendidikan Masih Jauh dari Kata “Merdeka”

27 Agustus 2022 - 14:51 WITA

Trending di Opini