Menu ✖

Mode Gelap
Polres Sidrap Ungkap Curanmor, Dua Residivis Diamankan Pererat Silaturahmi, Babinsa Kodim 1420/Sidrap Gelar Safari Salat Subuh Berjamaah Maulid Nabi Muhammad SAW Jadi Momentum MAC Berbagi Kualitas SDM dan Teknologi Jadi Prioritas Raker STIMI Yapmi Makassar 2026/2027 STIMI Yapmi Gelar PKKMB Maba 2026 di Kampus dan Pondok Tahfidz

News · 19 Mar 2024 11:50 WITA

OPINI : Bersatu Kita Teguh (4)


 OPINI : Bersatu Kita Teguh (4) Perbesar

METROMILENIAL | Kali ini tentang jatuh dengan cara buah kelapa. Tapi sebelumnya perlu membedakan buah kelapa dan jatuhnya buah kelapa. Yang saya bahas adalah cara jatuhnya, bukan buah kelapanya. Saya perlu perjelas karena takutnya ada yang ngiler dengan air kelapa muda dicampur sirup, padahal masih jauh dari waktu buka puasa.

Cara jatuh buah kelapa adalah jatuh dengan cara polos atau jatuh begitu saja, atau jatuh tanpa embel-embel. Saya tidak tahu Bahasa Indonesianya, tapi dalam bahasa lokal saya, ada istilahnya untuk menggambarkan cara jatuh seperti buah kelapa.

Cara jatuh buah kelapa adalah jatuh dalam kesendirian. Dalam hidup ini, ada banyak yang mengalami kejatuhan pada situasi yang berada di titik terbawah. Ada orang yang jatuh tanpa adanya respons di sekitarnya yang bisa meringankan efek kejatuhannya.

Orang yang jatuh seperti buah kelapa biasanya dimulai dari cara meniti hidupnya, tinggi menjulang dan abai pada kehidupan yang mengelilinya. Saat dia jatuh, orang-orang di sekitarnya-pun hanya melihat-lihat kejatuhannya tanpa memberikan bantuan sedikit-pun.

Orang yang jatuh seperti buah kelapa, adalah orang yang bisa saja kaya secara materi tapi miskin jaringan. Saat kekayaan materinya tergerus, kemiskinan jaringannya yang terasa. Kekayaan materinya tidak dimanfaatkan untuk memperkuat jaringannya, sehingga orang lain tidak akan menjadi penopang yang bisa membantunya saat dia oleng atau sampai terjatuh.

Orang yang jatuh dengan cara buah kelapa biasanya yang gagal memaknai sistim kekerabatan terbaik yang dimiliki oleh masyarakat Muslim, silaturrahim. Orang yang jatuh secara pohon kelapa, gagal paham tentang makna kearifan lokal, misalnya: malilu sipakainge’, malii siparappe’, rebba sipatokkong (lupa saling mengingatkan, jatuh saling membangunkan, hanyut saling mendamparkan).

Saya mengakhiri, modal terpenting tidak membuat diri jatuh seperti buah kelapa adalah dengan menjadi makhluk yang “sosialita,” minimal seperti ibu-ibu sosialita. Kita kuatkan peran sosial yang memperkuat jejaring sosial. Saat menghadapi kesulitan, kita tidak akan pernah sendiri. Bahkan orang sosial seperti ini, dia yang menghadapi kesulitan, teman-temannya yang justeru merasakannya. Sekali lagi, jangan sampai jatuh dengan cara buah kelapa, masalahnya kalau pecah, airnya tidak bisa dipakai untuk es buah pappabuka (pembuka puasa), rugi dong!

Hamdan Juhannis (Rektor UIN alauddin)

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Tim Kreatif

Baca Lainnya

STIMI YAPMI Buka Program S2 Magister Manajemen dan Wisuda Sarjana Manajemen

5 Oktober 2026 - 14:09 WITA

MAC Kembali Berbagi untuk Panti Asuhan dan Dhuafa di Makassar

30 September 2026 - 09:31 WITA

IKA SMA 4 Makassar Jalin Silaturahmi dan Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

20 September 2026 - 19:39 WITA

S2 Magister Manajemen STIMI Yapmi Makassar Terima Mahasiswa Baru 2026/2027

19 September 2026 - 12:27 WITA

Warga Cempaka Putih Selatan Parepare Khidmat Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

14 September 2026 - 20:58 WITA

Polres Sidrap Ungkap Curanmor, Dua Residivis Diamankan

9 September 2026 - 09:39 WITA

Trending di News