Menu

Mode Gelap
Update Haji 2025: Petugas Mulai Diberangkatkan ke Arafah Sidang Isbat: Hari Raya Idul Adha 6 Juni 2025 Wagub Sulsel Minta TPID dan TP2DD Bergerak Tepat Sasaran Daker Bandara Siap Sambut Kedatangan Gelombang II Jemaah Haji di Jeddah Sempat Viral di Medsos Sejumlah Koper CJH SUB di Madinah Diturunkan dari Bus, Berikut Penjelasannya!

News · 19 Mar 2024 11:50 WITA

OPINI : Bersatu Kita Teguh (4)


 OPINI : Bersatu Kita Teguh (4) Perbesar

METROMILENIAL | Kali ini tentang jatuh dengan cara buah kelapa. Tapi sebelumnya perlu membedakan buah kelapa dan jatuhnya buah kelapa. Yang saya bahas adalah cara jatuhnya, bukan buah kelapanya. Saya perlu perjelas karena takutnya ada yang ngiler dengan air kelapa muda dicampur sirup, padahal masih jauh dari waktu buka puasa.

Cara jatuh buah kelapa adalah jatuh dengan cara polos atau jatuh begitu saja, atau jatuh tanpa embel-embel. Saya tidak tahu Bahasa Indonesianya, tapi dalam bahasa lokal saya, ada istilahnya untuk menggambarkan cara jatuh seperti buah kelapa.

Cara jatuh buah kelapa adalah jatuh dalam kesendirian. Dalam hidup ini, ada banyak yang mengalami kejatuhan pada situasi yang berada di titik terbawah. Ada orang yang jatuh tanpa adanya respons di sekitarnya yang bisa meringankan efek kejatuhannya.

Orang yang jatuh seperti buah kelapa biasanya dimulai dari cara meniti hidupnya, tinggi menjulang dan abai pada kehidupan yang mengelilinya. Saat dia jatuh, orang-orang di sekitarnya-pun hanya melihat-lihat kejatuhannya tanpa memberikan bantuan sedikit-pun.

Orang yang jatuh seperti buah kelapa, adalah orang yang bisa saja kaya secara materi tapi miskin jaringan. Saat kekayaan materinya tergerus, kemiskinan jaringannya yang terasa. Kekayaan materinya tidak dimanfaatkan untuk memperkuat jaringannya, sehingga orang lain tidak akan menjadi penopang yang bisa membantunya saat dia oleng atau sampai terjatuh.

Orang yang jatuh dengan cara buah kelapa biasanya yang gagal memaknai sistim kekerabatan terbaik yang dimiliki oleh masyarakat Muslim, silaturrahim. Orang yang jatuh secara pohon kelapa, gagal paham tentang makna kearifan lokal, misalnya: malilu sipakainge’, malii siparappe’, rebba sipatokkong (lupa saling mengingatkan, jatuh saling membangunkan, hanyut saling mendamparkan).

Saya mengakhiri, modal terpenting tidak membuat diri jatuh seperti buah kelapa adalah dengan menjadi makhluk yang “sosialita,” minimal seperti ibu-ibu sosialita. Kita kuatkan peran sosial yang memperkuat jejaring sosial. Saat menghadapi kesulitan, kita tidak akan pernah sendiri. Bahkan orang sosial seperti ini, dia yang menghadapi kesulitan, teman-temannya yang justeru merasakannya. Sekali lagi, jangan sampai jatuh dengan cara buah kelapa, masalahnya kalau pecah, airnya tidak bisa dipakai untuk es buah pappabuka (pembuka puasa), rugi dong!

Hamdan Juhannis (Rektor UIN alauddin)

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Tim Kreatif

Baca Lainnya

Yayasan Marwan Aras Center (MAC) Kembali Berbagi Sedekah di Awal Tahun 2026

26 Januari 2026 - 13:22 WITA

Gerak Cepat, STIMI Yapmi Makassar Awali 2026 dengan Dua MoU

2 Januari 2026 - 20:49 WITA

Kades, Pengurus BUMDes dan Kopdes Merah Putih Parigi Moutong Antusias Ikuti Brainstorming Manajemen Bersama STIMI Yapmi Makassar

30 Desember 2025 - 09:26 WITA

Jelang Tutup Tahun 2025, Roda Ekonomi di CFD Boulevard Tetap Berputar

28 Desember 2025 - 12:42 WITA

MAC Kembali Salurkan Bantuan Ke 6 Panti Asuhan dan 30 Dhuafa di Makassar

25 Desember 2025 - 21:14 WITA

Tim STIMI Yapmi Peduli Salurkan Bantuan Makanan untuk Korban Bencana Angin Puting Beliung di Desa Jampue, Pinrang

16 Desember 2025 - 15:51 WITA

Trending di News