Menu

Mode Gelap
Update Haji 2025: Petugas Mulai Diberangkatkan ke Arafah Sidang Isbat: Hari Raya Idul Adha 6 Juni 2025 Wagub Sulsel Minta TPID dan TP2DD Bergerak Tepat Sasaran Daker Bandara Siap Sambut Kedatangan Gelombang II Jemaah Haji di Jeddah Sempat Viral di Medsos Sejumlah Koper CJH SUB di Madinah Diturunkan dari Bus, Berikut Penjelasannya!

Nasional · 29 Agu 2024 00:32 WITA

Tingkat Kemiskinan Ekstrem Naik di 6 Provinsi, BPS Catat Tertinggi di Sulbar


 Tingkat Kemiskinan Ekstrem Naik di 6 Provinsi, BPS Catat Tertinggi di Sulbar Perbesar

JAKARTA, MM | Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan data menunjukkan tingkat kemiskinan ekstrem mengalami penurunan di hampir seluruh provinsi. Namun ada enam provinsi yang tercatat mengalami peningkatan kemiskinan pada tahun 2024 ini dibanding tahun sebelumnya.

“Ada provinsi yang mengalami peningkatan kemiskinan ekstrem, yang terbesar terjadi di Sulawesi Barat,” ujar Amalia dalam rapat dengan komisi XI di DPR, Rabu 28 Agustus 2024.

Berdasarkan catatan BPS, masyarakat miskin ekstrem di kawasan tersebut bertambah 0,71 persen. Selanjutnya peningkatan terjadi di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung dan Sumatera Barat.

Berdasarkan catatan kemiskinan ekstrem BPS di 38 provinsi dan 514 kabupaten kota, penurunan terbesar kemiskinan ektrem terjadi di Bengkulu. Jika dihitung secara total, peringkat terbawah kemiskinan ekstrem RI terdata di enam provinsi di Papua.

Amelia mengatakan kondisi sumber daya manusia di rumah tangga miskin ektrem masih menjadi tantangan. “Untuk miskin ekstrem kepala rumah tangganya mayoritas memiliki pendidikan SD, sebesar 41,82 persen,” kata dia.

Perlu peningkatan kualitas mutu modal manusia untuk memutus mata rantai kemiskinan tersebut. Jumlah anggota keluarga kelompok ini sekitar 4 sampai 5 orang.

Rata-rata usia kepala rumah tangganya 53 tahun dan mayoritas bekerja di sektor pertanian. 26,5 persen sebagai buruh dan 13 persen di industri tambang dan pengolahan. “Mayoritas juga bekerja informal, bahkan ada 9,3 persen tidak memiliki toilet,” ujarnya.

Sementara untuk warga miskin ekstrem dengan kepala rumah tangga tunggal kebanyakan didominasi lansia berusia 71 tahun. Hampir seluruhnya perempuan dan tidak bekerja. Karena itu Amalia berharap desain kebijakan dapat seduai dengan karakteristik penduduk.

Adapun pemerintah memiliki target menurunkan kemiskinan ekstrem hingga 0 persen pada 2024. Namun data terakhir masyarakat miskin RI saat ini sebesar 0,83 persen, (**).

Artikel ini telah dibaca 36 kali

badge-check

Tim Kreatif

Baca Lainnya

Gerak Cepat, STIMI Yapmi Makassar Awali 2026 dengan Dua MoU

2 Januari 2026 - 20:49 WITA

Capaian Kinerja Terbaik, Pemprov Sulteng Raih Prestasi SPM Awards 2025 Tingkat Nasional

26 Mei 2025 - 09:50 WITA

Yatim Piatu Binaan ” Marwan Aras Center” (MAC) Mendapat Bantuan Uang Tunai

17 Mei 2025 - 10:40 WITA

Saudi Apresiasi Indonesia Kelola Haji secara Profesional dan Humanis

18 Januari 2025 - 14:21 WITA

BPIH 2025 Turun, Kepala Badan Penyelenggara Haji Apresiasi Menag dan DPR

9 Januari 2025 - 11:25 WITA

Tinjau SPKLU Bandung, Dirut PLN Pastikan Seluruh Infratruktur EV Siap Layani Masyarakat 24 Jam

27 Desember 2024 - 09:34 WITA

Trending di Nasional