NTT, MM | Tanwir Muhammadiyah tahun 2024 rencananya akan digelar pada bulan November mendatang di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembukaan Tanwir 2024 ini bertepatan dengan Milad ke-112 Muhammadiyah. Keputusan ini diambil melalui Konsolidasi Nasional Muhammadiyah yang digelar pada 27 sampai 28 Juli 2024 di Unisa Yogyakarta.
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada Kamis, 29 Agustus 2024 juga telah menggelar Rapat Pleno di Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Cik Ditiro, No. 26, Kota Yogyakarta dengan salah satu tema pembahasan adalah Tanwir Muhammadiyah. Dari rapat tersebut diketahui tema Tanwir 2024 ini adalah “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua”.
Menuju Tanwir Muhammadiyah di Kupang pada November 2024 mendatang, ada baiknya kita berkenalan secara ringkas tentang sejarah Muhammadiyah di NTT secara keseluruhan, dan khususnya di Kota Kupang tuan rumah Tanwir Muhammadiyah yang juga dikenal sebagai ‘Kota Karang’.
Zainuddin Achied dalam bukunya “Kiprah Perjuangan Muhammadiyah NTT (2011)” menyebutkan bahwa dakwah Muhammadiyah di NTT mulai berkembang sekitar tahun 1930-an. Daerah pertama yang menerima dakwah Muhammadiyah adalah Desa Geliting, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.
Sebagai daerah bandar atau pelabuhan, Geliting menjadi lokasi interaksi hilir mudiknya barang dan manusia di Pulau Flores. Geliting menjadi pintu masuknya kelompok mubalig yang berasal dari Ende yang menimba ilmu dari Bima, Makassar, maupun Jawa yang akan berdakwah di Flores.
Jejak fisik Muhammadiyah di Geliting adalah mimbar masjid yang berhiaskan ornamen logo Muhammadiyah. Dalam buku “Sejarah Universitas Muhammadiyah Kupang (2014)”, disebutkan ada kader Muhammadiyah dari Selayar, Sulsel yang bernama Husaini Daeng Maramba yang juga seorang saudagar datang ke Geliting, (**).






