Menu ✖

Mode Gelap
Polres Sidrap Ungkap Curanmor, Dua Residivis Diamankan Pererat Silaturahmi, Babinsa Kodim 1420/Sidrap Gelar Safari Salat Subuh Berjamaah Maulid Nabi Muhammad SAW Jadi Momentum MAC Berbagi Kualitas SDM dan Teknologi Jadi Prioritas Raker STIMI Yapmi Makassar 2026/2027 STIMI Yapmi Gelar PKKMB Maba 2026 di Kampus dan Pondok Tahfidz

News · 21 Nov 2025 23:02 WITA

MENGHIDUPKAN KEMBALI KOPERASI DI BUMI PERTIWI: Sebuah Sintesis Epistemologis


 MENGHIDUPKAN KEMBALI KOPERASI DI BUMI PERTIWI: Sebuah Sintesis Epistemologis Perbesar

MENGHIDUPKAN KEMBALI KOPERASI DI BUMI PERTIWI: Sebuah Sintesis Epistemologis
Oleh: Dr. Ibrahim Syah, S.E., M.M.

Pada 21 Juli 2025, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan 80.081 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih secara serentak sebagai upaya nyata penguatan ekonomi rakyat kecil. Langkah ini didukung Inpres Nomor 9 Tahun 2025 yang melibatkan 17 kementerian/lembaga, menandai political will kuat untuk memberdayakan koperasi.

Namun, koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional sebagaimana Pasal 33 UUD 1945 masih menghadapi tantangan besar. Kontribusinya terhadap PDB hanya sekitar 1%, jauh tertinggal dari beberapa negara maju. Akar masalahnya terletak pada krisis epistemologis: kelembagaan koperasi lengkap tetapi ilmu koperasi yang sistematis belum berkembang, bahkan IKOPIN belum membuka Program Studi Koperasi.

Sejarah koperasi dunia menunjukkan keberhasilan model yang berakar kuat pada konteks lokal, seperti Rochdale di Inggris (1844), Raiffeisen di Jerman (1864), dan Mondragón di Spanyol (1956). Di Indonesia, kearifan lokal seperti sistem baretong di warung-warung Padang menjadi contoh praktik ekonomi kerakyatan yang otentik dan berkelanjutan.

Koperasi adalah institusi counter-hegemonic yang mendorong distribusi modal secara adil, menolak logika neoliberal yang hanya mengandalkan trickle-down economics yang terbukti gagal mengurangi ketimpangan. Untuk menghidupkan kembali koperasi, diperlukan rekonstruksi epistemologis dengan mendirikan ilmu koperasi yang mengintegrasikan pendekatan akademik, revolusi regulasi dengan insentif fiskal dan akses modal, serta profesionalisasi manajemen koperasi.

Selain infrastruktur besar yang telah dibangun, kunci kesuksesan koperasi terletak pada pengembangan pengetahuan dan penerapan nilai gotong royong sebagai landasan epistemologis. Koperasi bukan hanya badan usaha, melainkan cerminan jiwa bangsa yang harus dihidupkan lewat ilmu yang kuat.

***

### Catatan kaki singkat:
Peluncuran 80.081 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto, Juli 2025.
Pasal 33 UUD 1945 tentang koperasi sebagai sokoguru perekonomian.
Kontribusi koperasi terhadap PDB Indonesia versus negara maju, data BPS 2024.
Kondisi kelembagaan dan akademik koperasi di Indonesia termasuk IKOPIN.
Contoh koperasi dunia: Rochdale, Raiffeisen, dan Mondragón.
Sistem baretong sebagai praktik koperasi lokal sukses.
Kritik neoliberalisme dan bukti kegagalan trickle-down economics.
Rekomendasi: ilmu koperasi terintegrasi, regulasi progresif, dan profesionalisasi.
Pentingnya epistemologi lokal dan ilmu dalam perkembangan koperasi.

Artikel ini telah dibaca 52 kali

badge-check

Tim Kreatif

Baca Lainnya

STIMI YAPMI Buka Program S2 Magister Manajemen dan Wisuda Sarjana Manajemen

5 Oktober 2026 - 14:09 WITA

MAC Kembali Berbagi untuk Panti Asuhan dan Dhuafa di Makassar

30 September 2026 - 09:31 WITA

IKA SMA 4 Makassar Jalin Silaturahmi dan Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

20 September 2026 - 19:39 WITA

S2 Magister Manajemen STIMI Yapmi Makassar Terima Mahasiswa Baru 2026/2027

19 September 2026 - 12:27 WITA

Warga Cempaka Putih Selatan Parepare Khidmat Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

14 September 2026 - 20:58 WITA

Polres Sidrap Ungkap Curanmor, Dua Residivis Diamankan

9 September 2026 - 09:39 WITA

Trending di News