Menu

Mode Gelap
Update Haji 2025: Petugas Mulai Diberangkatkan ke Arafah Sidang Isbat: Hari Raya Idul Adha 6 Juni 2025 Wagub Sulsel Minta TPID dan TP2DD Bergerak Tepat Sasaran Daker Bandara Siap Sambut Kedatangan Gelombang II Jemaah Haji di Jeddah Sempat Viral di Medsos Sejumlah Koper CJH SUB di Madinah Diturunkan dari Bus, Berikut Penjelasannya!

News · 21 Nov 2025 23:02 WITA

MENGHIDUPKAN KEMBALI KOPERASI DI BUMI PERTIWI: Sebuah Sintesis Epistemologis


 MENGHIDUPKAN KEMBALI KOPERASI DI BUMI PERTIWI: Sebuah Sintesis Epistemologis Perbesar

MENGHIDUPKAN KEMBALI KOPERASI DI BUMI PERTIWI: Sebuah Sintesis Epistemologis
Oleh: Dr. Ibrahim Syah, S.E., M.M.

Pada 21 Juli 2025, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan 80.081 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih secara serentak sebagai upaya nyata penguatan ekonomi rakyat kecil. Langkah ini didukung Inpres Nomor 9 Tahun 2025 yang melibatkan 17 kementerian/lembaga, menandai political will kuat untuk memberdayakan koperasi.

Namun, koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional sebagaimana Pasal 33 UUD 1945 masih menghadapi tantangan besar. Kontribusinya terhadap PDB hanya sekitar 1%, jauh tertinggal dari beberapa negara maju. Akar masalahnya terletak pada krisis epistemologis: kelembagaan koperasi lengkap tetapi ilmu koperasi yang sistematis belum berkembang, bahkan IKOPIN belum membuka Program Studi Koperasi.

Sejarah koperasi dunia menunjukkan keberhasilan model yang berakar kuat pada konteks lokal, seperti Rochdale di Inggris (1844), Raiffeisen di Jerman (1864), dan Mondragón di Spanyol (1956). Di Indonesia, kearifan lokal seperti sistem baretong di warung-warung Padang menjadi contoh praktik ekonomi kerakyatan yang otentik dan berkelanjutan.

Koperasi adalah institusi counter-hegemonic yang mendorong distribusi modal secara adil, menolak logika neoliberal yang hanya mengandalkan trickle-down economics yang terbukti gagal mengurangi ketimpangan. Untuk menghidupkan kembali koperasi, diperlukan rekonstruksi epistemologis dengan mendirikan ilmu koperasi yang mengintegrasikan pendekatan akademik, revolusi regulasi dengan insentif fiskal dan akses modal, serta profesionalisasi manajemen koperasi.

Selain infrastruktur besar yang telah dibangun, kunci kesuksesan koperasi terletak pada pengembangan pengetahuan dan penerapan nilai gotong royong sebagai landasan epistemologis. Koperasi bukan hanya badan usaha, melainkan cerminan jiwa bangsa yang harus dihidupkan lewat ilmu yang kuat.

***

### Catatan kaki singkat:
Peluncuran 80.081 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto, Juli 2025.
Pasal 33 UUD 1945 tentang koperasi sebagai sokoguru perekonomian.
Kontribusi koperasi terhadap PDB Indonesia versus negara maju, data BPS 2024.
Kondisi kelembagaan dan akademik koperasi di Indonesia termasuk IKOPIN.
Contoh koperasi dunia: Rochdale, Raiffeisen, dan Mondragón.
Sistem baretong sebagai praktik koperasi lokal sukses.
Kritik neoliberalisme dan bukti kegagalan trickle-down economics.
Rekomendasi: ilmu koperasi terintegrasi, regulasi progresif, dan profesionalisasi.
Pentingnya epistemologi lokal dan ilmu dalam perkembangan koperasi.

Artikel ini telah dibaca 43 kali

badge-check

Tim Kreatif

Baca Lainnya

72 Wisudawan STIMI Yapmi Makassar Siap Berkompetisi di Dunia Kerja

13 April 2026 - 13:48 WITA

Kepala LLDIKTI Wilayah IX Akan Hadir dalam Acara Wisuda Sarja ke XXIII STIMI Yapmi Makassar

31 Maret 2026 - 14:57 WITA

Di Penghujung Ramadhan, Yayasan Marwan Aras Center (MAC) Kembali Berbagi Bingkisan untuk Warga dan Jamaah

20 Maret 2026 - 13:13 WITA

Ribuan Warga Makassar Shalat Idul Fitri di Kampus Unismuh Makassar

20 Maret 2026 - 11:57 WITA

IKA Alumni SMAN 4 Makassar Angkatan 87 Gelar Buka Puasa Bersama di Cafe Langit/Ulu Juku

15 Maret 2026 - 12:20 WITA

Yayasan Marwan Aras Center (MAC) Berbagi Kebahagiaan Bersama Yatim dan Dhuafa di Bulan Ramadhan 1447 H

13 Maret 2026 - 22:53 WITA

Trending di News