METROMILENIAL |Tepatnya pada tanggal 11 Maret 2024, umat Muslim di Indonesia yang mengikuti Muhammadiyah akan memulai ibadah puasa Ramadhan. Namun, tahun ini, seperti yang telah diprediksi sebelumnya, terdapat perbedaan dalam penetapan awal bulan Ramadhan antara Muhammadiyah dengan lembaga resmi seperti Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama (NU).
Muhammadiyah, organisasi Islam yang didirikan oleh Ahmad Dahlan, menggunakan metode perhitungan astronomis dalam menentukan awal bulan Ramadhan. Mereka mengandalkan Hisab Hakiki Wujudul Hilal, yang menitikberatkan pada kondisi nyata peredaran Bulan, Bumi, dan Matahari. Dalam hal ini, Muhammadiyah menganggap sudah masuk bulan baru apabila Bulan telah berada lebih dari 0 derajat di atas ufuk, tanpa mempermasalahkan ketinggian dan elongasi hilal.
Sebaliknya, lembaga resmi seperti Kementerian Agama dan NU, menggunakan kriteria yang berbeda. Mereka mengadopsi standar Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yang menuntut ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Metode ini memerlukan penentuan awal bulan berdasarkan pengamatan rukyat, yaitu melalui pengamatan langsung di lapangan.
Perbedaan pendekatan ini menyebabkan perbedaan tanggal awal Ramadhan tahun ini antara Muhammadiyah dan lembaga resmi lainnya. Sementara Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan pada tanggal 11 Maret 2024 berdasarkan perhitungan astronomis, Kementerian Agama belum menetapkan tanggal yang pasti.
Sebagai bagian dari sikap menjaga harmoni dan toleransi antarumat beragama di Indonesia, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengimbau agar umat tetap menghargai perbedaan pendapat ini. “Karena kita sudah terbiasa dengan perbedaan itu, maka kita jalani untuk menjalankan ibadah Ramadhan,” ujarnya.
Meskipun terdapat perbedaan dalam penetapan awal puasa, semangat umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan kesadaran tetap tinggi. Ibadah Ramadhan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga merupakan wahana untuk memperkuat kesalehan diri pribadi dan kolektif.
Dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah ini, marilah kita tingkatkan pemahaman, kesadaran, serta semangat untuk menjalankan ibadah dengan penuh pengabdian kepada Allah SWT. Semoga puasa Ramadhan tahun ini memberikan berkah dan kebaikan bagi kita semua, serta memperkokoh persaudaraan dan kebersamaan di antara umat Muslim di Indonesia, (**).






